MAKALAH
BAHASA INDONESIA
KEUTAMAAN
PUASA
Disusun
oleh :
MAYA
NURAINI
Dosen
Pengampuh :
HENDRI
FIRMANSYAH, M.Pd
PRODI MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB, DAN
DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
BENGKULU
2019
Kata
Pengantar
Puji dan syukur kita panjatkan
kepada Allah SWT yang telah memberi karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas UAS untuk mata kuliah Bahasa
Indonesia yang berjudul “Keutamaan Puasa”.
Saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini tidak terlepas dari
kekurangan, tetapi berkat kritik, saran, dan doa berbagai pihak sehingga
makalah ini dapat terselesaikan. Saya menyadari bahwa makalah ini jauh dari
sempurna dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki.
Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik yang membangun, demi perbaikan
makalah ini yang akan datang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah
pengetahuan bagi pembaca terutama bagi penulis sendiri.
Akhir
kata saya sampaikan terima kasih dan semoga Allah SWT senantiasa meridhoi
segala usaha kita.
Bengkulu, Desember 2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Puasa
merupakan rukun Islam yang keempat. Puasa juga termasuk hal yang utama dan
sudah tak asing lagi bagi umat muslim. Bahkan tidak sedikit dari kalangan
muslim yang melaksanakan ibadah puasa.
Dalam puasa tak hanya sekedar
menunaikan kewajiban, juga ada hikmah dan amalan-amalan tertentu juga keajaiban
tertentu. Oleh karena itu, saya mengangkat tema ini untuk memperjelas tentang
masalah tersebut.
B.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan
dibahas yaitu :
1. Apa pengertian
puasa?
2. Apa keutamaan puasa?
3. Apa hikmah puasa?
C.
Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di
atas, adapun tujuan penulis menulis makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui
pengertian puasa.
2. Mengetahui keutamaan
puasa.
3. Mengetahui hikmah
puasa.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian puasa
Menurut bahasa puasa berarti “menahan
diri”. Menurut syara : menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa
dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari, dengan niat karena perintah
Allah semata, dan disertai niat dan syarat tertentu.
Dalam hadist juga dijelaskan
tentang kewajiban puasa ini sebagaimana sabda Nabi yang artinya:
Islam
ditegakkan atas 5 dasar:
1. Bersaksi
bahwa tiada Tuhan [yang patut disembah] melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.
2.
Mengerjakan shalat.
3.
Menunaikan zakat.
4. Haji.
5. Berpuasa
di bulan Ramadhan.
B. Syarat-syarat wajib Berpuasa dan
Syarat-Syarat Sah Puasa
1. Tentang syarat-syarat wajib puasa:
a. Beragama islam.
b. Baligh
dan berakal ; anak-anak belum diwajibkan berpuasa ; tetapi apabila kuat mengerjakannya,
boleh diajak berpuasa sebagai latihan.
c. Suci dari
haid dan nifas [ini khusus bagi wanita].
d. Kuasa
[ada kekuatan]. Kuasa disini artinya, tidak sakit dan bukan yang sudah tua, mereka ini boleh
tidak berpuasa, tapi wajib bayar fidiyah.
2. Syarat-syarat sahnya puasa
Syarat-syarat
sahnya puasa sebagai berikut:
a. Islam.
b. Tamyiz;
artinya orang-orang atau anak-anak yang dapat membedakan baik dan buruk. Lebih
jelasnya bukan anak yang terlalu kecil dan bukan orang gila.
c. Suci dari
haid dan nifas. Wanita yang sedang haid dan nifas tidak sah jika mereka
berpuasa, tetapi wajib qadha pada waktu lain, sebanyak bilangan hari yang ia
tinggalkan.
d. Tidak di
dalam hari-hari yang dilarang untuk berpuasa, yaitu di luar bulan Ramadhan.
C. Rukun Puasa
1. Niat: yaitu menyengaja puasa,
setelah terbenam matahari hingga sebelum fajar shidiq. Artinya pada malam
harinya, dalam hati telah tergerak niat, bahwa besok akan berpuasa.
2. Meninggalkan segala yang
membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari.
D. Hal-hal Ynag Membatalkan Puasa
Adapun yang
membatalkan puasa adalah sebagai berikut
1. Memasukkan
sesuatu kedalam lubang rongga badan dengan sengaja, seperti makan, minum,
merokok,memasukkan benda ke dalam telinga atau ke dalam hidung hingga melewati
pangkal hidungnya. Tapi jika lupa tidak membatalkan puasa.
2. Muntah
dengan sengaja; muntah apabila tidak sengaja tidak membatalkan puasa.
3. Haid dan
nifas; wanta yang haid dan nifas haram mengerjakan puasa, tetapi wajib
mengqadha sebanyak puasa yang ditinggalkan saat haid dan nifas.
4. Jima’
pada siang hari atau pada waktu fajar shidiq.
5. Hilang
akal atau gila.
6. Mabuk
atau pingsan sepanjang hari.
7. Murtad,
yakni keluar dari agama islam.
E. Sunnah-Sunnah Puasa
Sunnah-sunnah
puasa diantaranya :
a. Makan
sahur walaupun hanya sedikit
b.
Mengakhirkan makan sahur selama belum terbit fajar [ sampai waktu imsak,
kira-kira 10 menit sebelum subuh].
c.
Menyegerakan berbuka apabila telah masuk waktu maghrib.
d. Menjauhi
ucapan yang tidak senonoh, seperti berkata yang keji, dan mencoba bohong dan
sebagainya.
e. Memperbanyak
amal kebajikan, bersedekah, membaca Al-quran dan sebagainya.
f.
Memperbanyak i’tikaf di masjid.
F. Orang-orang yang Tidak Wajib
Qadha tetapi Wajib Fidyah
Orang yang
boleh tidak berpuasa dan tidak wajib qadha, tetapi wajib membayar fidiyah;
yaitu memberi makanan kepada fakir miskin setiap hari berupa bahan makanan
pokok sebanyak 1 mud [576 gram].
Mereka itu
adalah:
a. Orang
yang sakit dan tidak ada harapan lagi untuk sembuh.
b. Orang
yang lemah karena sudah tua, yang tidak kuat lagi berpuasa. Orang yang tidak
mengerjakan puasa pada bulan Ramadhan udzur dan diwajibkan mengqadha puasaanya
seperti firman Allah yang artinya: “Barang siapa yang dalam keadaan sakit atau
ia dalam perjalanan, maka boleh puasanya itu dikerjakan dihari yang lain. Allah
menghendaki keringanan bagi kamu” [S. Al- Baqarah : 184]
G. Hikmah Puasa
Puasa
merupakan ajaran agama yang mempunyai hikmah yang sangat banyak.
Hikmah puasa
dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Mendidik
para mukmin supaya berperangai luhur dan agar dapat mengontrol seluruh nafsu
dalam keinginan manusia biasa.
2. Mendidik
jiwa agar biasa dan dapat menguasai diri, sehingga mudah menjalankan semua
kebaikan dan meninggalkan segala larangan.
3.
Membiasakan orang yang brpuasa bersabar dan tahan uji.
4. Mendidik
jiwa agar dapat memegang amanat sebaik baiknya, karena orang berpuasa itu
sebagai seorang yang mendapat amanat untuk tidak makan dan minum atau hal yang
membatalkannya.
5. Ditinjau
dari segi kesehatan, puasa sangat berguna untuk menjaga dan memperbaiki
kesehatan.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dapat disimpulkan, puasa merupakan menahan diri dari segala yang
membatalkan puasa. Sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dalam syariat
Islam. Dalam berpuasa seeorang dapat mengontrol anggota badannya hingga gerak
gerik jiwa dan batinnya dan ucapan mulutnya.
Keutamaan puasa yaitu jalan meraih taqwa, penghalang
dari siksa neraka, memberi syafaat bagi orang yang menjalankannya, mendapat
pengampunan dosa, penahan syahwat, pintu syurga Arayan akan diraih bagi orang
yang berpuasa, memiliki waktu mustajab terkabulnya doa.
Hikmah puasa :
1. Mendidik umat muslim agar dapat menjadi orang
yang amanah dalam berpuasa.
2. Melatih kesabaran.
3. Menjaga kesehatan.
4. Menanamkan cinta kasih sesama manusia terutama
terhadap orang miskin.
B. Saran
Demikian yang dapat
penulis paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini. Tentunya
masih banyak kekurangan dan kelemahan, karena terbatasnya pengetahuan dan
kurangnya rujukan atau referensii yang ada hubungannya dengan judul makalah
ini.
Penulis berharap
para pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis
demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah ini dikesempatan berikutnya.
Semoga makalah ini berguna bagi penulis dan para pembaca.
DAFTAR
PUSTAKA
DRS. H. MOH. RIFA’I, Fikih Islam Lengkap. Hlm.322.
Bengkulu, 16 Desember 2019 pukul 21:46 wib.
